KONSEP PELAYANAN KEPERAWATAN KESEHATAN DI RUMAH
( HOME CARE )
DISUSUN OLEH:
EDY YUSUF, JUHARI, SUGIYO
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA
2009
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah memandirikan masyarakat untuk hidup sehat dengan misi membuat rakyat sehat. Guna mewujudkan visi dan misi tersebut berbagai program kesehatan telah dikembangkan termasuk pelayanan kesehatan di rumah.
Pelayanan kesehatan di rumah merupakan program yang sudah ada dan perlu dikembangkan, karena telah menjadi kebutuhan masyarakat, Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dan memasyarakat serta menyentuh kebutuhan masyarakat yakni melalui pelayanan keperawatan Kesehatan di rumah atau Home Care. Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yaitu melalui pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.
Hasil kajian Depkes RI tahun 2000 diperoleh hasil : 97,7 % menyatakan perlu dikembangkan pelayanan kesehatan di rumah, 87,3 % mengatakan bahwa perlu standarisasi tenaga, sarana dan pelayanan, serta 91,9 % menyatakan pengelola keperawatan kesehatan di rumah memerluka ijin oprasional
Berbagai faktor yang mendorong perkembangan pelayanan keperawatan kesehatan dirumah atara lain : Kebutuhan masyarakat, perkembangan IPTEK bidang kesehatan ,tersedianya SDM kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah.
II. KONSEP HOME CARE
A. Pengertian Home Care
Pelayanan kesehatan di rumah adalah pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien di rumahnya, yang merupakan sintesa dari pelayanan keperawatan komunitas dan keterampian teknikal tertentu yang berasal dari spesalisasi kesehatan tertentu, yang befokus pada asuhan keperawatan individu dengan melibatkan keluarga , dengan tujuan menyembuhkan, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan fisik, mental/ emosi pasien.
Perawatan kesehatan di rumah merupakan salah satu jenis dari perawatan jangka panjang (Long term care) yang dapat diberikan oleh tenaga profesional maupun non profesional yang telah mendapatkan pelatihan.
Perawatan kesehatan di rumah yang merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan adalah suatu komponen rentang pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan serta memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individual dan keluarga, direncanakan, dikoordinasi dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi home care melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian atau kombinasi dari keduanya (Warhola C, 1980).
Sherwen (1991) mendefinisikan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi. Sedangkan Stuart (1998) menjabarkan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian dari proses keperawatan di rumah sakit, yang merupakan kelanjutan dari rencana pemulangan (discharge planning), bagi klien yang sudah waktunya pulang dari rumah sakit. Perawatan di rumah ini biasanya dilakukan oleh perawat dari rumah sakit semula, dilaksanakan oleh perawat komunitas dimana klien berada, atau dilaksanakan oleh tim khusus yang menangani perawatan di rumah.
Menurut American of Nurses Association (ANA) tahun 1992 pelayanan keseatan di rumah adalah perpaduan perawatan kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat spesialis yang terdiri dari perawat komunitas, perawat gerontologi, perawat psikiatri, perawat maternitas dan perawat medikal bedah.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan perawatan kesehatan di rumah adalah :
1. Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan klien dan keluarganya,
2. Pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal klien dengan melibatkan klien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan,
3. Pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional, di bidang kesehatan maupun non kesehatan (Depkes, 2002).
Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pelayanan primer, sekunder dan tersier yang berfokus pada asuhan keperawatan klien melalui kerjasama dengan keluarga dan tim kesehatan lainnya. Perawatan kesehatan di rumah adalah spektrum kesehatan yang luas dari pelayanan sosial yang ditawarkan pada lingkungan rumah untuk memulihkan ketidakmampuan dan membantu klien yang menderita penyakit kronis (NAHC, 1994).
B. Perkembangan Perawatan Kesehatan di Rumah
Sejauh ini bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang dikenal masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan adalah pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Pada sisi lain banyak anggota masyarakat yang menderita sakit karena berbagai pertimbangan terpaksa dirawat di rumah dan tidak dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan. Faktor-faktor yang mendorong perkembangan perawatan kesehatan di rumah adalah :
1. Kasus-kasus penyakit terminal dianggap tidak efektif dan tidak efisien lagi apabila dirawat di institusi pelayanan kesehatan. Misalnya pasien kanker stadium akhir yang secara medis belum ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesembuhan,
2. Keterbatasan masyarakat untuk membiayai pelayanan kesehatan pada kasus-kasus penyakit degeneratif yang memerlukan perawatan yang relatif lama. Dengan demikian berdampak pada makin meningkatnya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah. Misalnya pasien pasca stroke yang mengalami komplikasi kelumpuhan dan memerlukan pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama,
3. Manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit, merasakan bahwa perawatan klien yang sangat lama (lebih 1 minggu) tidak menguntungkan bahkan menjadi beban bagi manajemen,
4. Banyak orang merasakan bahwa dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan membatasi kehidupan manusia, karena seseorang tidak dapat menikmati kehidupan secara optimal karena terikat dengan aturan-aturan yang ditetapkan,
5. Lingkungan di rumah ternyata dirasakan lebih nyaman bagi sebagian klien dibandingkan dengan perawatan di rumah sakit, sehingga dapat mempercepat kesembuhan (Depkes, 2002).
C. Landasan Hukum
1. UU Kes.No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
2. PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
3. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
4. UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
5. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang regestrasi dan praktik perawat
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas
7. Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas.
8. SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat.
9. PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
10. Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta
D.Tujuan Home Care
Tujuan Umum : Meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga
Tujuan Khusus :
1. Terpenuhi kebutuhan dasar ( bio-psiko- sosial- spiritual ) secara mandiri.
2. Meningkatkan kemandirian keluarga dalam pemeliharaan kesehatan.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kesehatan di rumah
Menurut Drs.I Nyoman Cakra, A.Md.Kep, SH. (2006). Perawatan kesehatan di rumah bertujuan :
1. Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya,
2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan,
3. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga,
4. Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang diperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif,
5. Biaya kesehatan akan lebih terkendali.
E Ruang Lingkup Home Care
Ruang Lingkup Home Care, yaitu:
a. Memberi asuhan keperawatan secara komprehensif
b. Melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya.
c. Mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga
Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah juga dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
2. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
3. Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
4. Pelayanan informasi dan rujukan
5. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
6. Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
7. Pelayanan perbaikan untuk kegiatan sosial
Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di rumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus khusus yang di jumpai di komunitas.
Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
1. Klien dengan penyakit gagal jantung,
2. Klien dengan gangguan oksigenasi,
3. Klien dengan perlukaan kronis,
4. Klien dengan diabetes,
5. Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
6. Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
7. Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
8. Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
9. Klien dengan HIV/AIDS.
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
1. Klien dengan post partum,
2. Klien dengan gangguan kesehatan mental,
3. Klien dengan kondisi usia lanjut,
4. Klien dengan kondisi terminal.
5. Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
F. Prinsip Home Care
a. Pengelolaan home care dilaksanaka oleh perawat/ tim
b. Mengaplikasikan konsep sebagai dasar mengambil keputusan dalam praktik.
c. Mengumpulan data secara sistematis, akurat dan komrehensif.
d. Menggunakan data hasil pengkajian dalam menetakan diagnosa keperawatan.
e. Mengembangkan rencana keperawatan didasarkan pada diagnosa keperawatan.
f. Memberi pelayanan prepentif, kuratif, promotif dan rehabilitaif.
g. Mengevaluasi respon pasien dan keluarganya dalam intervensi keperawatan
h. Bertanggung jawab terhadap pelayanan yang bermutu melalui manajemen kasus.
i. Memelihara dan menjamin hubungan baik diantara anggota tim.
j. Mengembankan kemampuan profesional.
k. Berpartisifasi pada kegiatan riset untuk pengembangan home care.
l. Menggunakan kode etik keperawatan daam melaksanakan praktik keperawatan
G. Peran dan Fungsi Perawat Home Care
1. Manajer kasus : Mengelola dan mengkolaborasikan pelayanan,dengan fungsi :
a. Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga.
b. Menyusun rencana pelayanan.
c. Mengkoordinir aktifitas tim
d. Memantau kualitas pelayanan
2. Pelaksana : memberi pelayanan langsung dan mengevaluasi pelayanan. dengan fungsi :
a. Melakukan pengkajian komprehensif
b. Menetapkan masalah
c. Menyusun rencana keperawatan
d. Melakukan tindakan perawatan
e. Melakukan observasi terhadap kondisi pasien.
f. Membantu pasien dalam mengembangkan prilaku koping yang efektif.
g. Melibatkan keluarga dalam pelayanan
h. Membimbing semua anggota keluarga dalam pemeliharaan kesehatan.
i. Melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan.
j. Mendokumentasikan asuhan keperawatan.
STANDAR URAIAN TUGAS DAN FUNGSI PENGELOLA HOME CARE
A. Ketua Pengelola
a. Mengkoordinasikan semua kegiatan pengelolaan Perawatan di rumah
b. Melakukan perlakuan yang baik terhadap pelaksanaan pelayanan dan klien
c. Meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan pelaksanaan Pelayanan
d. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan pembinaan terhadap kinerja pel.
e. Menyusun laporan pelaksanaan Home Care secara berkesinambungan
B. Ketua Bidang Administrasi/Keuangan
a. Mengkoordinasikan semua kegiatan administrasi dan keuangan Home Care
b. Melakukan perlakuan yang baik terhadap administrasi pengelolaan Home Care
c. Meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan pada bidang administrasi dan keuangan Home Care
d. Melaksanakan pengawasan, pengendalian proses adm. keuangan Home Care
e. Menyusun laporan administrasi keuangan Home Care
C. Ketua Bidang Pelayanan
a. Mengkoordinasikan semua kegiatan pelayanan perawatan
b. Melakukan perlakuan yang baik terhadap proses pelaksanaan Home Care
c. Meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan terhadap sumber daya manusia keperawatan
d. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan pembinaan pel. Home Care.
e. Menyusun laporan kegiatan pelayanan keperawatan di rumah
D. Penanggung Jawab Kasus/ Koordinator
a. Mengkoordinasikan semua kegiatan pel. yang dilaksanakan oleh pelaksanan pel.
b. Melakukan perlakuan yang baik terhadap pelaksanaan kep. dan klien di rumah
c. Meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan pelaksanaan kep.
d. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan pembinaan kepada pelaksana kep.
e. Menyusun laporan kegiatan pelayanan sesuai bidang tugasnya
E. Pelaksanan Pelayanan
a. Melaksanakan pengkajian dan menentukan diagnosa keperawatan
b. Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan
c. Melaksanakan intervensi / tindakan keperawatan sesuai rencana yang ditentukan
d. Mengevaluasi kegiatan/ tindakan yang diberikan dg. berpedoman pada renpra.
e. Membuat dokumentasi tertulis pada rekam kep. setiap selesai melaksanakan tugas
F. Konsulen
a. Menerima konsultasi dari pelaksanaan keperawatan dan memberikan petunjuk / advis sesuai kewenangannya
b. Memberikan advokasi khususnya dalam bidang tindakan medik
c. Melaksanakan tindakan-tindakan medik sesuai kewenangannya
d. Memeriksa, menentukan Diagnosa dan memberi terapi medik
III. KEGIATAN HOME CARE
A. Manajemen Kasus Home Care
1. Melakukan seleksi kasus
a. Resiko tinggi ( Bayi, balita, lansia, ibu maternal )
b. Cidera tulang belakang cidera kepala
c. Coma, Diabetes mellitus, gagal jantung, asma berat
d. Stroke
e. Amputasi
f. Ketergantungan obat
g. Luka kronis
h. Disfungsi kandung kemih
i. Rehabilitasi medik
j. Nutrisi melalui infus
k. Post partum dan masalah reproduksi
l. Psikiatri
m. Kekerasan dalam rumah tangga.
2. Melakukan pengkajian kebutuhan pasien.
a. Kondii fisik
b. Kondisi psikologis
c. Status sosial ekonomi
d. Pola prilaku pasien
e. Sumber- sumber yang tersedia di keluarga pasien
3. Membuat perencanaan pelayanan
a. Membuat rencana kunjungan
b. Membuat rencana tindakan
c. Menyeleksi sumber- sumber yang tersedia di keluarga / masyarakat.
4. Melakukan koordinasi pelayanan
a. Memberi informasi berbagai macam pelayanan yang tersedia
b. Membuat perjanjian kepada pasien da keluarga tentang pelayanan
c. Menkoordinasikan kegiatan tim sesuai jadwal
d. Melakukan rujukan pasien
5. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan.
a. Memonitor tindakan yang dilakukan oleh tim
b. Menilai hasil akhir pelayanan ( sembuh, rujuk, meninggal, menolak )
c. Mengevaluasi proses manajemen kasus
d. Monitoring dan evaluasi kepuasan pasien secara teratur
Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
b. Lingkungan sosial dan budaya
c. Spiritual
d. Pemeriksaan fisik
e. Kemampuan pasien dalam pemenuhan kebutuhan se- hari- hari
f. Kemampuan keluarga dalam merawat keluarga
2. Diagnosa Keperawatan
a. Aktual
b. Resiko
c. Potensial
3. Perencanaan keperawatan
a. Penentuan prioritas masalah
b. Menentukan tujuan
c. Menyusun rencana secara komprehensif.
4. Implementasi
a. Manajemen perawatan luka
b. Perawatan gangguan sistem pernafasan
c. Gangguan eleminasi
d. Gangguan Nurisi
e. Kegiatan rehabilitasi
f. Pelaksanaan pengobatan
g. Tindakan Kolaborasi
5. Evaluasi
a. Mengukur efektifitas dan efisiensi pelayanan
b. Dilaksanakan selama proses dan akhir peberian asuhan.
Pencatanan dan Pelaporan home care
Pencatatan Manajemen kasus
a. Persetujuan pasien
b. Jadwal kunjungan
c. Lembar pengobatan
d. Tindakan tim
e. Rujukan kasus
f. Penghentian perawatan
Pencatatan pelaksanaan asuhan keperawatan
a. Pengkajian keperawatan
b. Perencanaan asuhan
c. Evaluasi asuhan
Alur Pelaporan
a. Home Care
b. Dinkes Kab.
c. Dinkes Prov
d. Depkes
Materi laporan
a. Jumlah pasien
b. Jenis penyakit
c. Frekuensi kunjunagn tiap kasus
d. Jumlah pasien dapat pengobatan
e. Jumlah pasien yang dirujuk
f. Jumlah pasien yang meninggal
g. Penyebab kematian
h. Tingkat keberhasilan /kemandiian pasien
i. Jenis tenaga yang memberi pelayanan
IV. TATALAKSANA HOME CARE
A. Prasyarat Penyelenggara Home Care
1. Ketenagaan
a. Manajer kasus, dengan kualifikasi:
• Minimal D.III
• Pemegang sertifikat pelatihan home care
• Pengalaman kerja minimal 3 tahun
• Memiliki SIP,SIK,SIPP
b. Pelaksana pelayanan, dengan kwalifikasi :
• Minimal D.III
• Pemegang sertifikat pelatihan home care
• Pengalaman kerja minimal 3 tahun
• Memiliki SIP,SIK,SIPP
2. Alat/ sarana
a. Alat kesehatan
1. Tas/ kit
2. Pemeriksaan fisik
3. Set perawatan luka
4. Set emergency
5. Set pemasangan selang lambung
6. Set huknah
7. Set memandikan
8. Set pengambilan preparat
9. Set pemeriksaan lab. Sederhana
10. Set infus/ injeksi
11. Sterilisator
12. Pot/ urinal
13. Tiang infus
14. Tempat tidur khusus orang sakit
15. Pengisap lendir
16. Perlengkapan oxigen
17. Kursi roda
18. Tongkat/ tripot
19. Perlak/ alat tenun
b. Alat habis pakai
• Obat emergency
• Perawatan luka
• Suntik/ pengamian darah
• Untuk infus
• Pemasagan selang lambung
• Huknah, selang lambung, kateter
• Sarung tangan, masker
• Dll
STANDART ALAT HOME CARE
(Drs.I Nyoman Cakra, A.Md.Kep, SH.,2006.)
Peralatan Home Care
1. Set tempat tidur khusus orang sakit
2. Set kursi roda/ tongkat/ kruk/ tripot
3. Set oksigen
4. Set penghisap lender
5. Set bab/ bak
6. Set suntik
7. Set perawatan luka
8. Set pemasangan selang lambung
9. Set huknah/ klisma
10. Set pemasangan selang catheter
11. Set preparat pemeriksaan laboratorium.
12. Set formulir untuk asuhan keperawatan
Bahan Habis Pakai Home Care
1. Kasa/ kapas steril
2. Kertas tisue
3. Cairan pelicin/ minyak/ jelly
4. Plester/ pembalut
5. Kantong plastik untuk sampah biologis dan infeksius.
6. Alkohol 70 %/ cairan desinfektan
7. Obat merchurochrom 70 %
8. Tabung plastik/ botol tempat preparat tinja, urine.
9. Bilah kayu untuk mengambil preparat.
10. Sabun/ deterjen.
11. Resusisator untuk bayi
12. Semprit dan jarum suntik dispossible ukuran. 1,2,3, 5,10,20
Obat-obatan emergency
1. Adrenalin
2. Dexametazon
3. Xyllo dan Deladryl
4. Cairan infus
c. Sarana lain
• Alat dan media pendidikan kesehatan
• Ruangan beserta perlengkapannya
• Kendaraan
• Alat komunikasi
• Alat informasi/ dokumentasi
3. Perijinan Home Care
a. Berbadan hukum ( yayasan, badan hukum lainnya )
b. Permohonan ijin ke Dinkes kabupaten/ Kota, dengan melampirkan:
• Rekomendasi PPNI
• Ijin prakik perawat ( SP, SIK, SIPP )
• Persyaratan peralatan kesehatan dan sarana komunikasi dan transportasi
• Ijin lokasi bangunan
• Ijin lingkungan
• Ijin usaha
• Persyaratan tata ruang bangunan
B. Mekanisma Pelayanan Home Care
1. Proses penerimaan kasus
a. Home care menerima pasien dari rumah sakit, puskesmas, sarana lain, keluarga
b. Pimpinan home care menunjuk menejer kasus untuk mengelola kasus
c. Manajer kasus membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus
2. Proses pelayanan home care
a. Persiapan
• Pastikan identitas pasien
• Bawa denah/ petunjuk tempat tinggal pasien
• Lengkap kartu identitas unit tempat kerja
• Pastikan perlengkapan pasien untuk di rumah
• Siapkan file asuhan keperawatan
• Siapkan alat bantu media untuk pendidikan
b. Pelaksanaan
• Perkenalkan diri dan jelaskan tujuan.
• Observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat
• Lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien
• Membuat rencana pelayanan
• Lakukan perawatan langsung
• Diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi, konsultasi dll
• Diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan
• Dokumentasikan kegiatan
c. Monitoring dan evaluasi
• Keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal
• Kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan
• Efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksanan
d. Proses penghentian pelayanan home care, dengan kreteria :
• Tercapai sesuai tujuan
• Kondisi pasien stabil
• Program rehabilitasi tercapai secara maximal
• Keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien
• Pasien di rujuk
• Pasien menolak pelayanan lanjutan
• Pasien meninggal dunia
C. Pembiayaan Home Care
1. Prinsip penentuan tarip
a. Pemerintah/ masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan
b. Disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial ekonomi
c. Mempertimbangkan masyarakat bepenghasilan rendah/ asas gotong royong
d. Pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling membantu
e. Mencakup seluruh unsur pelayanan secara proporsional
2. Jenis pelayanan yang kena tarip
a. Jasa pelayanan tenaga kesehatan
b. Imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien
c. Dana transportasi untuk kunjungan pasien
V. PEMANTAUAN, PEMBINAAN DAN PENILAIAN
A. Pemantauan Home Care
a. Aspek fisik
b. Manajerial
c. Sumber daya
d. Pelayanan
e. Pembiayaan
B. Pembinaan Home Care
a. Aspek fisik
b. Manajerial
c. Sumber daya
d. Pelayanan
e. Pembiayaan
C. Penilaian Home Care
a. Kelengkapan dokumen
b. Kesesuaian pelayanan dari berbagai profesi
c. Kepuasan pelanggan
d. Kemandirian pasien/ keluarga
VI. PENUTUP
Salah satu tujuan dari pelayanan keperawatan professional adalah memberikan pelayanan keperawatan yang holistic (menyeluruh ) bio, psiko, sosio, dan cultural kepada individu, kelompok dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dasarnya. Pelayanan yang bersifat holistic ini akan lebih lengkap dengan pemberian pelayanan keperawatan lanjutan dirumah atau lebih dengan home healt care.
Tujuan home care antara lain Meningkatkan, mempertahankan dan memulihkan kondisi kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit untuk mencapai kemampuan individu secara optimal selama mungkin yang dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan.banyak sekali manfaat yang dapat di peroleh dari kegiatan home care antara lain :
• Meningkatkan upaya promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif
• Mengurangi frekuensi hospitalisasi
• Efisiensi waktu, biaya, tenaga dan pikiran
Saat ini sudah mulai dikembangkan home care hospital based, dimana pelayanan home care berada dibawah rumah sakit yang berasangkutan.namun belum semua pelayanan home care hospital based dilaksanakan dengan manajemen yang baik, sehingga belum dirasakan manfaat yang berarti baik bagi rumah sakit, perawat, dokter dan pasien. perlu sekiranya home care hospital based di atur serta dikelola dengan baik agar dapat meningkatkan kulaitas pelayanan kesehatan serta membantu menurunkan beban pasien dan dapat pula mempercepat proses penyembuhan penyakit. Pun perlu dikembangkan pula home care pada tatanan komunitas yang dapat merujuk kliennya ke tatanan pelayanan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit.
SUMBER PUSTAKA
Drs I Nyoman Cakra, A Md Kep, SH., 2006. Home care. Disajikan dalam rangka sosialisasi home care, pada sidang DPRD Kabuapten Gianyar, pada tanggal 19 Oktober 2006 di Gianyar- Bali
http://ppnicilacap.blogspot.com/
http://ferryefendi.blogspot.com/2007/11/home-care-perawatan-kesehatan-di-rumah.html
http://subektiheru.blogspot.com/2007/09/home-care.html
27 Maret 2009
REMAJA DAN PERMASALAHANNNYA
1. Apa yang dimaksud dengan remaja ?
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja.( Situs.kesrepro.info/krr/referensi).
2. Permasalahan apa yang di temui saat remaja ?
• Jumlah penduduk usia 10 – 24 tahun yang besar ( 60 juta )
• Masa transisi kehidupan ( youth five life transitions)
1. Melanjutkan sekolah (Continue learning)
2. Mencari pekerjaan (Star working)
3. Memulai berkeluarga (Form families)
4. Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)
5. Mempraktikkan hidup sehat (practise healthy life)
• Globalisasi liberalisasi norma sikap dan prilaku remaja
• Resiko Triad ( Seksulitas, Narkoba, dan HIV / AIDS )
3. Bagaimana mengatasi permasalahan tersebut ?
Komitmen pemerintah, dukungan, institusi pendidikan, keluarga dan kelompok remaja meningkatkan efektivitas program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)
Lalu, APA SEBENARNYA PROGRAM KRR itu ?
Program untuk MEMFASILITASI terwujudnya TEGAR REMAJA, Yaitu :
1. Berprilaku Sehat
2. Terhindar infeksi yang menyerang organ kelamin , HIV/AIDS,dan NAPZA
3. Menunda Usia Perkawinan
4. Bercita-cita mewujudkan KKBS (Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera)
5. Menjadi idola, model, contoh, sumber informasi bagi kawannya
MELALUI
• KIE
• Konseling dan rujukan medis
• Pengembangan kecerdasan
• Olah raga dan kesenian
• Kegiatan khas remaja
Berperilaku Sehat
Perilaku sehat sehat secara umum yaitu menerapkan konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yg menjadikan seseorang / keluarga dpt menolong diri sendiri di bidang kesehatandan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
PHBS BIDANG KESEHATAN LINGKUNGAN
• Cuci tangan dgn sabun & air stlh BAB
• Menghuni rumah sehat
• Menggunakan air bersih
• Menggunakan jamban
• Memberantas jentik nyamuk
• Membuang sampah ditptnya
• Cuci tangan sebelum dan sesudah makan
PHBS BIDANG GAYA HIDUP SEHAT
• Tidak merokok dalam rumah
• Melakukan aktifitas fisik / olahraga setiap hari
• Makan sayur dan buah-buahan setiap hari
Perilaku sehat remaja secara khusus yaitu menerapkan konsep Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan reproduksi remaja adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan social yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dan system reproduksi yang dimiliki remaja. Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai factor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. (Situs.kesrepro.info/krr/referensi).
Dukungan terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja berupa :
1. Fasilitasi Seksualitas
2. Fasiltasi HIV/AIDS
3. Fasiltasi Napza
Melalui Komunikasi Imformasi dan Edukasi (KIE) dari ke tiga kegiatan tersebut diharapkan remaja dapat mengenal :
1. Pengenalan masalah system reproduksi, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja).
2. Mengapa remaja perlu mendewasakan usia perkawinan serta merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginan.
3. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kesehatan reproduksi.
4. Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi.
5. Pengaruh social dan media terhadap perilaku seksual.
6. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya.
7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negative.
8. Hak-hak reproduksi.
( Situs.kesrepro.info/krr/referensi).
Sumber :
Situs.kesrepro.info/krr/referensi
Materi Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja BKKBN
Materi Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
From: Blog mahyuliansyah
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja.( Situs.kesrepro.info/krr/referensi).
2. Permasalahan apa yang di temui saat remaja ?
• Jumlah penduduk usia 10 – 24 tahun yang besar ( 60 juta )
• Masa transisi kehidupan ( youth five life transitions)
1. Melanjutkan sekolah (Continue learning)
2. Mencari pekerjaan (Star working)
3. Memulai berkeluarga (Form families)
4. Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)
5. Mempraktikkan hidup sehat (practise healthy life)
• Globalisasi liberalisasi norma sikap dan prilaku remaja
• Resiko Triad ( Seksulitas, Narkoba, dan HIV / AIDS )
3. Bagaimana mengatasi permasalahan tersebut ?
Komitmen pemerintah, dukungan, institusi pendidikan, keluarga dan kelompok remaja meningkatkan efektivitas program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)
Lalu, APA SEBENARNYA PROGRAM KRR itu ?
Program untuk MEMFASILITASI terwujudnya TEGAR REMAJA, Yaitu :
1. Berprilaku Sehat
2. Terhindar infeksi yang menyerang organ kelamin , HIV/AIDS,dan NAPZA
3. Menunda Usia Perkawinan
4. Bercita-cita mewujudkan KKBS (Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera)
5. Menjadi idola, model, contoh, sumber informasi bagi kawannya
MELALUI
• KIE
• Konseling dan rujukan medis
• Pengembangan kecerdasan
• Olah raga dan kesenian
• Kegiatan khas remaja
Berperilaku Sehat
Perilaku sehat sehat secara umum yaitu menerapkan konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yg menjadikan seseorang / keluarga dpt menolong diri sendiri di bidang kesehatandan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
PHBS BIDANG KESEHATAN LINGKUNGAN
• Cuci tangan dgn sabun & air stlh BAB
• Menghuni rumah sehat
• Menggunakan air bersih
• Menggunakan jamban
• Memberantas jentik nyamuk
• Membuang sampah ditptnya
• Cuci tangan sebelum dan sesudah makan
PHBS BIDANG GAYA HIDUP SEHAT
• Tidak merokok dalam rumah
• Melakukan aktifitas fisik / olahraga setiap hari
• Makan sayur dan buah-buahan setiap hari
Perilaku sehat remaja secara khusus yaitu menerapkan konsep Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan reproduksi remaja adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan social yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dan system reproduksi yang dimiliki remaja. Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai factor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. (Situs.kesrepro.info/krr/referensi).
Dukungan terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja berupa :
1. Fasilitasi Seksualitas
2. Fasiltasi HIV/AIDS
3. Fasiltasi Napza
Melalui Komunikasi Imformasi dan Edukasi (KIE) dari ke tiga kegiatan tersebut diharapkan remaja dapat mengenal :
1. Pengenalan masalah system reproduksi, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja).
2. Mengapa remaja perlu mendewasakan usia perkawinan serta merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginan.
3. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kesehatan reproduksi.
4. Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi.
5. Pengaruh social dan media terhadap perilaku seksual.
6. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya.
7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negative.
8. Hak-hak reproduksi.
( Situs.kesrepro.info/krr/referensi).
Sumber :
Situs.kesrepro.info/krr/referensi
Materi Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja BKKBN
Materi Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
From: Blog mahyuliansyah
24 Maret 2009
PENGEMBANGAN KARIR
INI KARIR ANDA: TANGGUNG JAWAB ANDA UNTUK MERENCANAKAN DAN MENGEMBANGKAN KARIR ANDA
APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERENCANAAN KARIR???
Perencanaan karir adalah suatu proses pengkajian diri dan penetapan tujuan yang dilakukan secara terus menerus yang membantu perawat beradaptasi terhadap perubahan dalam pengembangan diri mereka sendiri, profesi dan lingkungan dimana mereka berada dan praktik.
Karir memerlukan perhatian dan harus dipupuk, karena karir merupakan pengungkapan kehidupan tentang bagaimana seseorang menginginkan dirinya mengisi kehidupan di dunia. Sejalan dengan perkembangan karir, keterampilan juga berkembang, kebutuhan berubah, dan tujuan serta rencana juga berkembang. Karir sebagai perawat secara umum dapat diuraikan dalam lima tahapan:
1. Pembelajaran, yang terjadi ketika mengikuti program pendidikan dasar dan tambahan pembelajaran dengan spesialisasi.
2. Awal, ketika perawat baru lulus memilih pekerjaan pertama sebagai perawat dalam bidang keperawatan.
3. Komitmen, ketika perawat mengidentifikasi apa yang disukai dan tidak disukai dalam hal bidang keilmuan keperawatan, geografis dan kehidupan kerja, dsb.
4. Konsolidasi, ketika perawat merasa nyaman dengan pilihan jalur karirnya dan hubungan antara personal dan professional.
5. Menarik diri, ketika perawat siap untuk pensiun dari bekerja.
Tahapan ini menunjukkan perkembangan melalui karir bukan perkembangan melalui pekerjaan. Pada tiap tahap, seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu pekerjaan atau jabatan. Perencanaan karir amat berperan pada tiap tahap karir perawat. Perencanaan karir bukanlah peristiwa pada satu waktu saja, namun lebih dari itu, yaitu suatu proses yang menjadi bagian dari pemapanan keterampilan dan pengalaman serta memampukan perawat untuk berkembang sebagai seorang professional dan mencapai tujuan personal.
Mengapa perencanaan dan pengembangan karir suatu hal yang penting???
Begitu banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi di dunia dan merupakan tantangan dan peluang bagi profesi dan insan keperawatan. Perubahan itu sendiri sudah menjadi norma dan menciptakan lingkungan di mana individu harus dapat mengendalikan karirnya. Perawat tidak bisa lebih lama lagi tergantung pada pihak lain untuk merancang masa depan karirnya. Perencanaan karir secara terus menerus merupakan strategi yang dapat menawarkan berbagai cara untuk merespons perubahan jangka pendek dan jangka panjang dalam profesi, pelayanan kesehatan, tempat kerja.
Proses perencanaan dan pengembangan karir membantu perawat untuk menjawab empat pertanyaan berikut:
• Dimana saya sebelumnya?
• Dimana saya sekarang?
• Kemana saya ingin melangkah?
• Bagaimana saya sampai ke sana?
Ini merupakan suatu proses pengembangan keterampilan hidup, yang dapat diterapkan oleh perawat di tempat bekerja dan dalam kehidupan pribadi.
Perencanaan pengembangan karir
Pengembangan karir lebih merupakan suatu proses yang berulang dan terus menerus dan bukan suatu proses yang berjalan dalam garis luru. Tentunya dalam perencanaan pengembangan karir memerlukan perawat untuk memahami pekerjaan dan lingkunan kehidupannya, mengkaji kekuatan dan keterbatasan yang dimiliki, memvalidasi hasil kajian tersebut, mengartikulasikan visi karir personal, menyusun rencana ke depan yang realistic, dan kemudian memasarkannya untuk mencapai tujuan karir yang didambakan.
Menurut ICN (2001) pengembangan karir terdiri dari lima tahap:
1. Membaca situasi lingkungan anda.
2. Melengkapi kajian diri dan realitas.
3. Menciptakan visi karir anda.
4. Menyusun rencana karir yang strategik.
5. Memasarkan diri anda sendiri.
1. Membaca situasi lingkungan anda:
Membaca situasi lingkungan berarti memahami kenyataan terkini tentang sistem pelayanan kesehatan, lingkungan kerja dan kecenderungan masyarakat, pelayanan kesehatan, dan keperawatan ke depan secara global, nasional bahkan lokal. Proses ini penting bagi perawat untuk lebih mengetahui, belajar melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda, serta mampu mengidentifikasi peluang karir, baik untuk saat ini, maupun untuk masa mendatang. Untuk dapat membahami situasi lingkungan, berikut ini pertanyaan yang dapat membantu anda melengkapi informasi yang diperlukan tsb, yaitu:
• Apa isu sosial/kesehatan yang tampaknya menjadi fenomena global?
• Apa isu keperawatan yang terjadi dalam lingkup global?
• Apa saja kecenderungan social dan kesehatan di Negara anda?
• Apa isu yang mempengaruhi perawat di Negara anda?
• Apa isu sosial dan kesehatan yang penting di daerah anda?
• Apa isu keperawatan yang penting di daerah anda?
• Kesenjangan apa yang terdapat antara kebutuhan klien/konsumer dan pelayanan yang diberikan?
2. Melengkapi kajian diri dan realitas
Tahap ini akan membantu anda untuk mengidentifikasi nilai, pengalaman, pengetahuan, kekuatan dan keterbatasan yang harus terkait dengan situasi lingkungan, sehingga dapat membantu menciptakan visi karir dan mengidentifikasi arah pengembangan anda ke depan. Pada dasarnya ketika melakukan pengkajian terhadap diri sendiri, anda memfokuskan kepada pengenalan tentang sifat, atau apa yang anda dapat tawarkan. Jelas pertanyaan yang perlu dijawab adalah: “Siapa saya?” dan “Bagaimana orang lain melihat saya.?
Pengkajian terhadap diri sendiri memerlukan refleksi diri, kemampuan untuk mempertanyakan hal yang sulit, dan memvalidasi jawaban anda dengan bantuan orang lain. Selanjutnya, akan memungkinkan anda untuk meningkatkan keterampilan dan bakat anda serta memahami keterampilan apa saja yang perlu ditingkatkan. Ini hanya mungkin terjadi apabila anda dapat memberikan gambaran yang akurat tentang diri anda, dalam suatu konteks potensi peluang dan memutuskan pilihan yang terbaik untuk diri anda sendiri.
Untuk menjawab “siapa saya”?, tidak cukup dengan menjelaskan apa yang anda lakukan dan apa pekerjaan anda, tapi lebih dari itu, yaitu dengan menguraikan keyakinan, nilai, pengetahuan, keterampilan dan minat. Jawaban pertanyaan tentang nilai dan minat, menjadi amat penting
Pertanyaan untuk mengetahui tentang nilai, antara lain:
• Apa yang penting dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi saya?
• Siapa atau apa yang saya perlu pertimbangkan dalam kehidupan saya pada saat ini?
• Apa yang menjadi prioritas saya: diri sendiri, keluarga, komunitas atau orang lain?
• Pengetahuan dan keterampilan apa yang sudah saya kembangkan, baik secara personal maupun professional?
• Apa kekuatan atau kelebihan saya?
• Apa kekurangan saya?
• Apa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk pengembangan lebih lanjut?
Sedangkan pertanyaan untuk dapat mengidentifikasi minat, adalah:
• Apa yang paling anda sukai dari pekerjaan yang lalu dan yang sekarang?
• Lingkungan seperti apa yang mengoptimalkan potensi anda?
• Apa yang anda suka lakukan di luar pekerjaan anda?
• Apa yang memotivasi saya?
Setelah selesai mengevaluasi nilai dan minat, selanjutnya diperlukan untuk mengkaji kekuatan, kelemahan dan keberhasilan yang signifikan, di mana anda merasa berada pada suatu tingkat keberhasilan tertinggi baik secara personal maupun professional. Untuk itu pertanyaan yang perlu dijawab adalah:
• Apa keberhasilan yang paling berarti dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan anda dalam tiga hingga lima tahun terakhir?
• Bisakan anda uraikan perbedaan apa yang terjadi dalam kehidupan personal maupun professional anda saat itu?
Apapun hasil pengkajian diri yang sudah dilakukan, perlu divalidasi dengan bagaimana orang lain memandang anda yang amat dibutuhkan untuk meningkatkan penghayatan diri dan memfasilitasi pertumbuhan anda. Oleh karena itu, pertanyaan berikut perlu dijawab:
Umpan balik apa yang saya terima dari sejawab, sahabat dan keluarga tentang keberhasilan saya?
• Apa kelemahan dan kekuatan atau kelebihan saya yang mereka identifikasi?
• Apa tiga kata sifat yang mereka akan gunakan untuk dapat menjelaskan tentang diri saya, baik di lingkungan kerja, maupun di luar lingkungan kerja, dan mengapa?
• Bagaimana hasil pengkajian diri saya dibandingkan dengan hasil pengkajian orang lain?
3. Menciptakan visi karir anda.
Setelah menetapkan gambaran nyata dan komprehensif tentang nilai, keyakinan, pengetahuan, dan keterampilan diri, maka selanjutnya anda siap untuk memikirkan tentang kesempatan anda, karena visi karir anda amat terkait dengan siapa anda sebenarnya saat ini dan akan menjadi apa anda ke depan. Menciptakan visi karir, amat tergantung pada jawaban atas pertanyaan “Apa yang saya inginkan?” yang akan memberikan arah dan mengantisipasi atau memanfaatkan peluang yang ada. Visi anda tidak harus realistis dan tidak perlu mengkawatirkan bahwa visi anda terlalu besar atau tampak tidak mungkin untuk dicapai, yang penting harus dapat mengispirasi anda. Pertanyaan berikut dapat mengarahkan visi anda:
• Apa yang saya inginkan? Apa yang saya cari?
• Seperti apa hari yang ideal bagi saya? Apa yang sedang saya lakukan?, dimana saya melakukannya?, dan siapa bersama saya?
• Apakah ada orang yang melakukukan pekerjaan sesuai dengan keiningan saya? Uraikan karakteristik pekerjaan tersebut.
• Keyakinan apa yang membatasi saya untuk melakukan apa yang sebenarnya saya inginkan?
• Apa kendala yang ada di lingkungan yang harus saya pertimbangkan sebelum saya bisa melakukan apa yang menjadi keinginan saya?
4. Menyusun rencana karir yang Responsif
Rencana karir responsif terdiri dari tujuan, kegiatan, batas waktu dan sumber yang anda perlukan untuk membantu anda mencapai visi karir yang dicita citakan. Tahapan perencanan karir:
a. Tetapkan tujuan: Tetapkan tujuan pengembangan karir anda yang realistic dan dapat dilakukan yang memotivasi bahwa saya dapat mewujudkannya.
b. Spesifikasi langkah: Setelah menetapkan tujuan, gunakan langkah langkah tindakan yang spesifik berupa kegiatan konkrit. “Agar dapat mencapai tujuan ini, saya akan ………”
c. Identifikasi sumber: Identifikasi siapa dan apa yang akan membantu anda mengimplementasikan rencana, termasuk sumber atau potensi sumber yang tersedia.
d. Tetapkan batas waktu: Penetapan batas waktu penting dilakukan untuk memudahkan dalam mengatur kegiatan.
e. Identifikasi esponsiv keberhasilan: Seperti keberhasilan yang anda inginkan, catat indicator personal anda untuk membantu mengevaluasi rencana pada tiah tahpa perekmbangan, indikator ini bisa bersifat intrinsik dan eksternal.
Perencanaan karir yang anda buat harus dinamis, responsif terhadap lingkungan personal anda dan menstimulasi secara professional. Rencana ini perlu penyesuaian secara terus menerus berdasarkan kondisi yang berkembang di lingkungan atau tahap perkembangan karir yang sudah dicapai.
5. Memasarkan diri anda sendiri.
Pemasaran diri memerlukan keterampilan dalam mengemas kualitas personal dan professional, sifat atau karakter dan kepakarana anda, sehingga dapat mengkomunikasikannya secara efektif. Apa yang anda bisa tawarkan dan mengapa anda orang yang terbaik untuk bisa memenuhinya. Untuk dapat memasarkan diri secara efektif, anda perlu:
a. Membina jejaring: Jejaring diperlukan untuk menyebarkan dan memapar kepada orang lain tentang kelebihan dan keberhasilan anda. Penting untuk selalu mengingat siapa yang mengenal anda. Ketika anda bertemu dengan seseorang, fokuskan pada siapa anda dan apa yang anda bisa lakukan untuk mereka. Mempunyai jejaring memungkinkan anda untuk memposisikan diri anda sendiri secara strategik dan mempertahankan keterpaparan keprofessionalan diri anda. Selanjutnya anda perlu membangun dukungan kelompok yang percaya pada anda dan ingin anda sukses.
b. Menemukan mentor: Mentor diperlukan untuk membimbing anda mentransformasikan mimpi anda menjadi kenyataan. Perawat yang sudah berpengalaman dan sudah mengkontribusi secara bermakna pada profesi keperawatan, biasanya berminat untuk berbagi pengetahuan dan kemampuan kepemimpinannya kepada perawat yang masih kurang berpengalaman, sebagai mentor. Hubungan sosial, kelompok atau komunitas dan hubungan bisnis juga merupakan sumber yang amat penting.
c. Mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara tertulis maupun langsung: Untuk memasarkan diri, anda perlu mempunyai business card, resume tentang biodata anda yang menampilkan keunikan diri anda. Resume harus bisa ditulis secara meyakinkan tentang pengetahuan, keterampilan dan bakat anda, yang dapat langsung menjelaskan siapa anda dan apa yang anda bisa lakukan untuk mereka. Membuat berbagai tulisan di media massa, jurnal professional, atau bahkan membuat website personal. Keterampilan memasarkan diri sendiri secara langsung memerlukan pengembangan penampilan melalui kemampuan berbicara secara professional sambil selalu mengingat siapa anda dan apa yang anda bisa tawarkan untuk mereka. Pada tahap yang lebih lanjut, wawancara merupakan alat pemasaran diri yang amat efektif.
d. Membangun citra bisnis dan profesi: Bagi perawat yang sudah bekerja, citra bisnis atau profesi ini penting untuk membuat atasan dan sejawat anda menyadari kontribusi anda. Membangun citra berarti menjaga dan memelihara terus track record anda agar tetap baik, positif dan spesial. Perlu diingat bahwa citra positif dibangun secara bertahap.
Membangun karir anda berarti membangun keterampilan kepemimpinan yang berkarakter, mempunyai visi dan berpikir strategik, memiliki kesadaran yang tinggi dan responsif terhadap lingkungan, kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi rasa percaya, diplomatis, membangun kerja tim, kemitraan dan aliansi, and last but not least…mampu memasarkan diri anda sendiri.
Tunggu apa lagi, siapa takut…….mulai dari sekarang bertanggung jawablah atas pengembangan karir professional anda. Gunakan kesempatan dengan cara yang strategik. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pengembangan personal dan professional anda yang akan memberikan kepuasan luar biasa dan membuat anda untuk mengakui:”Saya bangga sebagai perawat professional”… I feel so special!” and of course I am so proud to be an Indonesian Nurse…”. One day you would introduce yourself by saying:” I am a business nurse..”Indonesian business nurse….!” WOooow….Great!!!
Jakarta, 29 Februari 2008
Achir Yani S. Hamid
From : www.fikui.ac.id
APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERENCANAAN KARIR???
Perencanaan karir adalah suatu proses pengkajian diri dan penetapan tujuan yang dilakukan secara terus menerus yang membantu perawat beradaptasi terhadap perubahan dalam pengembangan diri mereka sendiri, profesi dan lingkungan dimana mereka berada dan praktik.
Karir memerlukan perhatian dan harus dipupuk, karena karir merupakan pengungkapan kehidupan tentang bagaimana seseorang menginginkan dirinya mengisi kehidupan di dunia. Sejalan dengan perkembangan karir, keterampilan juga berkembang, kebutuhan berubah, dan tujuan serta rencana juga berkembang. Karir sebagai perawat secara umum dapat diuraikan dalam lima tahapan:
1. Pembelajaran, yang terjadi ketika mengikuti program pendidikan dasar dan tambahan pembelajaran dengan spesialisasi.
2. Awal, ketika perawat baru lulus memilih pekerjaan pertama sebagai perawat dalam bidang keperawatan.
3. Komitmen, ketika perawat mengidentifikasi apa yang disukai dan tidak disukai dalam hal bidang keilmuan keperawatan, geografis dan kehidupan kerja, dsb.
4. Konsolidasi, ketika perawat merasa nyaman dengan pilihan jalur karirnya dan hubungan antara personal dan professional.
5. Menarik diri, ketika perawat siap untuk pensiun dari bekerja.
Tahapan ini menunjukkan perkembangan melalui karir bukan perkembangan melalui pekerjaan. Pada tiap tahap, seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu pekerjaan atau jabatan. Perencanaan karir amat berperan pada tiap tahap karir perawat. Perencanaan karir bukanlah peristiwa pada satu waktu saja, namun lebih dari itu, yaitu suatu proses yang menjadi bagian dari pemapanan keterampilan dan pengalaman serta memampukan perawat untuk berkembang sebagai seorang professional dan mencapai tujuan personal.
Mengapa perencanaan dan pengembangan karir suatu hal yang penting???
Begitu banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi di dunia dan merupakan tantangan dan peluang bagi profesi dan insan keperawatan. Perubahan itu sendiri sudah menjadi norma dan menciptakan lingkungan di mana individu harus dapat mengendalikan karirnya. Perawat tidak bisa lebih lama lagi tergantung pada pihak lain untuk merancang masa depan karirnya. Perencanaan karir secara terus menerus merupakan strategi yang dapat menawarkan berbagai cara untuk merespons perubahan jangka pendek dan jangka panjang dalam profesi, pelayanan kesehatan, tempat kerja.
Proses perencanaan dan pengembangan karir membantu perawat untuk menjawab empat pertanyaan berikut:
• Dimana saya sebelumnya?
• Dimana saya sekarang?
• Kemana saya ingin melangkah?
• Bagaimana saya sampai ke sana?
Ini merupakan suatu proses pengembangan keterampilan hidup, yang dapat diterapkan oleh perawat di tempat bekerja dan dalam kehidupan pribadi.
Perencanaan pengembangan karir
Pengembangan karir lebih merupakan suatu proses yang berulang dan terus menerus dan bukan suatu proses yang berjalan dalam garis luru. Tentunya dalam perencanaan pengembangan karir memerlukan perawat untuk memahami pekerjaan dan lingkunan kehidupannya, mengkaji kekuatan dan keterbatasan yang dimiliki, memvalidasi hasil kajian tersebut, mengartikulasikan visi karir personal, menyusun rencana ke depan yang realistic, dan kemudian memasarkannya untuk mencapai tujuan karir yang didambakan.
Menurut ICN (2001) pengembangan karir terdiri dari lima tahap:
1. Membaca situasi lingkungan anda.
2. Melengkapi kajian diri dan realitas.
3. Menciptakan visi karir anda.
4. Menyusun rencana karir yang strategik.
5. Memasarkan diri anda sendiri.
1. Membaca situasi lingkungan anda:
Membaca situasi lingkungan berarti memahami kenyataan terkini tentang sistem pelayanan kesehatan, lingkungan kerja dan kecenderungan masyarakat, pelayanan kesehatan, dan keperawatan ke depan secara global, nasional bahkan lokal. Proses ini penting bagi perawat untuk lebih mengetahui, belajar melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda, serta mampu mengidentifikasi peluang karir, baik untuk saat ini, maupun untuk masa mendatang. Untuk dapat membahami situasi lingkungan, berikut ini pertanyaan yang dapat membantu anda melengkapi informasi yang diperlukan tsb, yaitu:
• Apa isu sosial/kesehatan yang tampaknya menjadi fenomena global?
• Apa isu keperawatan yang terjadi dalam lingkup global?
• Apa saja kecenderungan social dan kesehatan di Negara anda?
• Apa isu yang mempengaruhi perawat di Negara anda?
• Apa isu sosial dan kesehatan yang penting di daerah anda?
• Apa isu keperawatan yang penting di daerah anda?
• Kesenjangan apa yang terdapat antara kebutuhan klien/konsumer dan pelayanan yang diberikan?
2. Melengkapi kajian diri dan realitas
Tahap ini akan membantu anda untuk mengidentifikasi nilai, pengalaman, pengetahuan, kekuatan dan keterbatasan yang harus terkait dengan situasi lingkungan, sehingga dapat membantu menciptakan visi karir dan mengidentifikasi arah pengembangan anda ke depan. Pada dasarnya ketika melakukan pengkajian terhadap diri sendiri, anda memfokuskan kepada pengenalan tentang sifat, atau apa yang anda dapat tawarkan. Jelas pertanyaan yang perlu dijawab adalah: “Siapa saya?” dan “Bagaimana orang lain melihat saya.?
Pengkajian terhadap diri sendiri memerlukan refleksi diri, kemampuan untuk mempertanyakan hal yang sulit, dan memvalidasi jawaban anda dengan bantuan orang lain. Selanjutnya, akan memungkinkan anda untuk meningkatkan keterampilan dan bakat anda serta memahami keterampilan apa saja yang perlu ditingkatkan. Ini hanya mungkin terjadi apabila anda dapat memberikan gambaran yang akurat tentang diri anda, dalam suatu konteks potensi peluang dan memutuskan pilihan yang terbaik untuk diri anda sendiri.
Untuk menjawab “siapa saya”?, tidak cukup dengan menjelaskan apa yang anda lakukan dan apa pekerjaan anda, tapi lebih dari itu, yaitu dengan menguraikan keyakinan, nilai, pengetahuan, keterampilan dan minat. Jawaban pertanyaan tentang nilai dan minat, menjadi amat penting
Pertanyaan untuk mengetahui tentang nilai, antara lain:
• Apa yang penting dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi saya?
• Siapa atau apa yang saya perlu pertimbangkan dalam kehidupan saya pada saat ini?
• Apa yang menjadi prioritas saya: diri sendiri, keluarga, komunitas atau orang lain?
• Pengetahuan dan keterampilan apa yang sudah saya kembangkan, baik secara personal maupun professional?
• Apa kekuatan atau kelebihan saya?
• Apa kekurangan saya?
• Apa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk pengembangan lebih lanjut?
Sedangkan pertanyaan untuk dapat mengidentifikasi minat, adalah:
• Apa yang paling anda sukai dari pekerjaan yang lalu dan yang sekarang?
• Lingkungan seperti apa yang mengoptimalkan potensi anda?
• Apa yang anda suka lakukan di luar pekerjaan anda?
• Apa yang memotivasi saya?
Setelah selesai mengevaluasi nilai dan minat, selanjutnya diperlukan untuk mengkaji kekuatan, kelemahan dan keberhasilan yang signifikan, di mana anda merasa berada pada suatu tingkat keberhasilan tertinggi baik secara personal maupun professional. Untuk itu pertanyaan yang perlu dijawab adalah:
• Apa keberhasilan yang paling berarti dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan anda dalam tiga hingga lima tahun terakhir?
• Bisakan anda uraikan perbedaan apa yang terjadi dalam kehidupan personal maupun professional anda saat itu?
Apapun hasil pengkajian diri yang sudah dilakukan, perlu divalidasi dengan bagaimana orang lain memandang anda yang amat dibutuhkan untuk meningkatkan penghayatan diri dan memfasilitasi pertumbuhan anda. Oleh karena itu, pertanyaan berikut perlu dijawab:
Umpan balik apa yang saya terima dari sejawab, sahabat dan keluarga tentang keberhasilan saya?
• Apa kelemahan dan kekuatan atau kelebihan saya yang mereka identifikasi?
• Apa tiga kata sifat yang mereka akan gunakan untuk dapat menjelaskan tentang diri saya, baik di lingkungan kerja, maupun di luar lingkungan kerja, dan mengapa?
• Bagaimana hasil pengkajian diri saya dibandingkan dengan hasil pengkajian orang lain?
3. Menciptakan visi karir anda.
Setelah menetapkan gambaran nyata dan komprehensif tentang nilai, keyakinan, pengetahuan, dan keterampilan diri, maka selanjutnya anda siap untuk memikirkan tentang kesempatan anda, karena visi karir anda amat terkait dengan siapa anda sebenarnya saat ini dan akan menjadi apa anda ke depan. Menciptakan visi karir, amat tergantung pada jawaban atas pertanyaan “Apa yang saya inginkan?” yang akan memberikan arah dan mengantisipasi atau memanfaatkan peluang yang ada. Visi anda tidak harus realistis dan tidak perlu mengkawatirkan bahwa visi anda terlalu besar atau tampak tidak mungkin untuk dicapai, yang penting harus dapat mengispirasi anda. Pertanyaan berikut dapat mengarahkan visi anda:
• Apa yang saya inginkan? Apa yang saya cari?
• Seperti apa hari yang ideal bagi saya? Apa yang sedang saya lakukan?, dimana saya melakukannya?, dan siapa bersama saya?
• Apakah ada orang yang melakukukan pekerjaan sesuai dengan keiningan saya? Uraikan karakteristik pekerjaan tersebut.
• Keyakinan apa yang membatasi saya untuk melakukan apa yang sebenarnya saya inginkan?
• Apa kendala yang ada di lingkungan yang harus saya pertimbangkan sebelum saya bisa melakukan apa yang menjadi keinginan saya?
4. Menyusun rencana karir yang Responsif
Rencana karir responsif terdiri dari tujuan, kegiatan, batas waktu dan sumber yang anda perlukan untuk membantu anda mencapai visi karir yang dicita citakan. Tahapan perencanan karir:
a. Tetapkan tujuan: Tetapkan tujuan pengembangan karir anda yang realistic dan dapat dilakukan yang memotivasi bahwa saya dapat mewujudkannya.
b. Spesifikasi langkah: Setelah menetapkan tujuan, gunakan langkah langkah tindakan yang spesifik berupa kegiatan konkrit. “Agar dapat mencapai tujuan ini, saya akan ………”
c. Identifikasi sumber: Identifikasi siapa dan apa yang akan membantu anda mengimplementasikan rencana, termasuk sumber atau potensi sumber yang tersedia.
d. Tetapkan batas waktu: Penetapan batas waktu penting dilakukan untuk memudahkan dalam mengatur kegiatan.
e. Identifikasi esponsiv keberhasilan: Seperti keberhasilan yang anda inginkan, catat indicator personal anda untuk membantu mengevaluasi rencana pada tiah tahpa perekmbangan, indikator ini bisa bersifat intrinsik dan eksternal.
Perencanaan karir yang anda buat harus dinamis, responsif terhadap lingkungan personal anda dan menstimulasi secara professional. Rencana ini perlu penyesuaian secara terus menerus berdasarkan kondisi yang berkembang di lingkungan atau tahap perkembangan karir yang sudah dicapai.
5. Memasarkan diri anda sendiri.
Pemasaran diri memerlukan keterampilan dalam mengemas kualitas personal dan professional, sifat atau karakter dan kepakarana anda, sehingga dapat mengkomunikasikannya secara efektif. Apa yang anda bisa tawarkan dan mengapa anda orang yang terbaik untuk bisa memenuhinya. Untuk dapat memasarkan diri secara efektif, anda perlu:
a. Membina jejaring: Jejaring diperlukan untuk menyebarkan dan memapar kepada orang lain tentang kelebihan dan keberhasilan anda. Penting untuk selalu mengingat siapa yang mengenal anda. Ketika anda bertemu dengan seseorang, fokuskan pada siapa anda dan apa yang anda bisa lakukan untuk mereka. Mempunyai jejaring memungkinkan anda untuk memposisikan diri anda sendiri secara strategik dan mempertahankan keterpaparan keprofessionalan diri anda. Selanjutnya anda perlu membangun dukungan kelompok yang percaya pada anda dan ingin anda sukses.
b. Menemukan mentor: Mentor diperlukan untuk membimbing anda mentransformasikan mimpi anda menjadi kenyataan. Perawat yang sudah berpengalaman dan sudah mengkontribusi secara bermakna pada profesi keperawatan, biasanya berminat untuk berbagi pengetahuan dan kemampuan kepemimpinannya kepada perawat yang masih kurang berpengalaman, sebagai mentor. Hubungan sosial, kelompok atau komunitas dan hubungan bisnis juga merupakan sumber yang amat penting.
c. Mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara tertulis maupun langsung: Untuk memasarkan diri, anda perlu mempunyai business card, resume tentang biodata anda yang menampilkan keunikan diri anda. Resume harus bisa ditulis secara meyakinkan tentang pengetahuan, keterampilan dan bakat anda, yang dapat langsung menjelaskan siapa anda dan apa yang anda bisa lakukan untuk mereka. Membuat berbagai tulisan di media massa, jurnal professional, atau bahkan membuat website personal. Keterampilan memasarkan diri sendiri secara langsung memerlukan pengembangan penampilan melalui kemampuan berbicara secara professional sambil selalu mengingat siapa anda dan apa yang anda bisa tawarkan untuk mereka. Pada tahap yang lebih lanjut, wawancara merupakan alat pemasaran diri yang amat efektif.
d. Membangun citra bisnis dan profesi: Bagi perawat yang sudah bekerja, citra bisnis atau profesi ini penting untuk membuat atasan dan sejawat anda menyadari kontribusi anda. Membangun citra berarti menjaga dan memelihara terus track record anda agar tetap baik, positif dan spesial. Perlu diingat bahwa citra positif dibangun secara bertahap.
Membangun karir anda berarti membangun keterampilan kepemimpinan yang berkarakter, mempunyai visi dan berpikir strategik, memiliki kesadaran yang tinggi dan responsif terhadap lingkungan, kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi rasa percaya, diplomatis, membangun kerja tim, kemitraan dan aliansi, and last but not least…mampu memasarkan diri anda sendiri.
Tunggu apa lagi, siapa takut…….mulai dari sekarang bertanggung jawablah atas pengembangan karir professional anda. Gunakan kesempatan dengan cara yang strategik. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pengembangan personal dan professional anda yang akan memberikan kepuasan luar biasa dan membuat anda untuk mengakui:”Saya bangga sebagai perawat professional”… I feel so special!” and of course I am so proud to be an Indonesian Nurse…”. One day you would introduce yourself by saying:” I am a business nurse..”Indonesian business nurse….!” WOooow….Great!!!
Jakarta, 29 Februari 2008
Achir Yani S. Hamid
From : www.fikui.ac.id
23 Maret 2009
Konsep Keperawatan Home Care
KONSEP KEPERAWATAN HOME CARE
Oleh : Edy Yusuf, Sugiyo, Juhari
Home Care / Perawatan Kesehatan di Rumah
Pengertian
Perawatan kesehatan di rumah merupakan salah satu jenis dari perawatan jangka panjang (Long term care) yang dapat diberikan oleh tenaga profesional maupun non profesional yang telah mendapatkan pelatihan.
Perawatan kesehatan di rumah yang merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan adalah suatu komponen rentang pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan serta memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individual dan keluarga, direncanakan, dikoordinasi dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi home care melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian atau kombinasi dari keduanya (Warhola C, 1980).
Sherwen (1991) mendefinisikan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi. Sedangkan Stuart (1998) menjabarkan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian dari proses keperawatan di rumah sakit, yang merupakan kelanjutan dari rencana pemulangan (discharge planning), bagi klien yang sudah waktunya pulang dari rumah sakit. Perawatan di rumah ini biasanya dilakukan oleh perawat dari rumah sakit semula, dilaksanakan oleh perawat komunitas dimana klien berada, atau dilaksanakan oleh tim khusus yang menangani perawatan di rumah.
Menurut American of Nurses Association (ANA) tahun 1992 pelayanan keseatan di rumah adalah perpaduan perawatan kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat spesialis yang terdiri dari perawat komunitas, perawat gerontologi, perawat psikiatri, perawat maternitas dan perawat medikal bedah.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan perawatan kesehatan di rumah adalah :
1. Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan klien dan keluarganya,
2. Pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal klien dengan melibatkan klien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan,
3. Pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional, di bidang kesehatan maupun non kesehatan (Depkes, 2002).
Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pelayanan primer, sekunder dan tersier yang berfokus pada asuhan keperawatan klien melalui kerjasama dengan keluarga dan tim kesehatan lainnya. Perawatan kesehatan di rumah adalah spektrum kesehatan yang luas dari pelayanan sosial yang ditawarkan pada lingkungan rumah untuk memulihkan ketidakmampuan dan membantu klien yang menderita penyakit kronis (NAHC, 1994).
B. Perkembangan Perawatan Kesehatan di Rumah
Sejauh ini bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang dikenal masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan adalah pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Pada sisi lain banyak anggota masyarakat yang menderita sakit karena berbagai pertimbangan terpaksa dirawat di rumah dan tidak dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan. Faktor-faktor yang mendorong perkembangan perawatan kesehatan di rumah adalah :
1. Kasus-kasus penyakit terminal dianggap tidak efektif dan tidak efisien lagi apabila dirawat di institusi pelayanan kesehatan. Misalnya pasien kanker stadium akhir yang secara medis belum ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesembuhan,
2. Keterbatasan masyarakat untuk membiayai pelayanan kesehatan pada kasus-kasus penyakit degeneratif yang memerlukan perawatan yang relatif lama. Dengan demikian berdampak pada makin meningkatnya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah. Misalnya pasien pasca stroke yang mengalami komplikasi kelumpuhan dan memerlukan pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama,
3. Manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit, merasakan bahwa perawatan klien yang sangat lama (lebih 1 minggu) tidak menguntungkan bahkan menjadi beban bagi manajemen,
4. Banyak orang merasakan bahwa dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan membatasi kehidupan manusia, karena seseorang tidak dapat menikmati kehidupan secara optimal karena terikat dengan aturan-aturan yang ditetapkan,
5. Lingkungan di rumah ternyata dirasakan lebih nyaman bagi sebagian klien dibandingkan dengan perawatan di rumah sakit, sehingga dapat mempercepat kesembuhan (Depkes, 2002).
Perawatan kesehatan di rumah bertujuan :
1. Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya,
2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan,
3. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga,
4. Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang diperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif,
5. Biaya kesehatan akan lebih terkendali.
Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah dapat di kelompokkan sebagai berikut :
1. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
2. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
3. Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
4. Pelayanan informasi dan rujukan
5. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
6. Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
7. Pelayanan perbaikan untuk kegiatan sosial
Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di rumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus khusus yang di jumpai di komunitas.
Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
1. Klien dengan penyakit gagal jantung,
2. Klien dengan gangguan oksigenasi,
3. Klien dengan perlukaan kronis,
4. Klien dengan diabetes,
5. Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
6. Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
7. Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
8. Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
9. Klien dengan HIV/AIDS.
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
1. Klien dengan post partum,
2. Klien dengan gangguan kesehatan mental,
3. Klien dengan kondisi usia lanjut,
4. Klien dengan kondisi terminal.
5. Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
http://ferryefendi.blogspot.com/2007/11/home-care-perawatan-kesehatan-di-rumah.html
Oleh : Edy Yusuf, Sugiyo, Juhari
Home Care / Perawatan Kesehatan di Rumah
Pengertian
Perawatan kesehatan di rumah merupakan salah satu jenis dari perawatan jangka panjang (Long term care) yang dapat diberikan oleh tenaga profesional maupun non profesional yang telah mendapatkan pelatihan.
Perawatan kesehatan di rumah yang merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan adalah suatu komponen rentang pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan serta memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individual dan keluarga, direncanakan, dikoordinasi dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi home care melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian atau kombinasi dari keduanya (Warhola C, 1980).
Sherwen (1991) mendefinisikan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi. Sedangkan Stuart (1998) menjabarkan perawatan kesehatan di rumah sebagai bagian dari proses keperawatan di rumah sakit, yang merupakan kelanjutan dari rencana pemulangan (discharge planning), bagi klien yang sudah waktunya pulang dari rumah sakit. Perawatan di rumah ini biasanya dilakukan oleh perawat dari rumah sakit semula, dilaksanakan oleh perawat komunitas dimana klien berada, atau dilaksanakan oleh tim khusus yang menangani perawatan di rumah.
Menurut American of Nurses Association (ANA) tahun 1992 pelayanan keseatan di rumah adalah perpaduan perawatan kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat spesialis yang terdiri dari perawat komunitas, perawat gerontologi, perawat psikiatri, perawat maternitas dan perawat medikal bedah.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan perawatan kesehatan di rumah adalah :
1. Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan klien dan keluarganya,
2. Pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal klien dengan melibatkan klien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan,
3. Pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional, di bidang kesehatan maupun non kesehatan (Depkes, 2002).
Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pelayanan primer, sekunder dan tersier yang berfokus pada asuhan keperawatan klien melalui kerjasama dengan keluarga dan tim kesehatan lainnya. Perawatan kesehatan di rumah adalah spektrum kesehatan yang luas dari pelayanan sosial yang ditawarkan pada lingkungan rumah untuk memulihkan ketidakmampuan dan membantu klien yang menderita penyakit kronis (NAHC, 1994).
B. Perkembangan Perawatan Kesehatan di Rumah
Sejauh ini bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang dikenal masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan adalah pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Pada sisi lain banyak anggota masyarakat yang menderita sakit karena berbagai pertimbangan terpaksa dirawat di rumah dan tidak dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan. Faktor-faktor yang mendorong perkembangan perawatan kesehatan di rumah adalah :
1. Kasus-kasus penyakit terminal dianggap tidak efektif dan tidak efisien lagi apabila dirawat di institusi pelayanan kesehatan. Misalnya pasien kanker stadium akhir yang secara medis belum ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesembuhan,
2. Keterbatasan masyarakat untuk membiayai pelayanan kesehatan pada kasus-kasus penyakit degeneratif yang memerlukan perawatan yang relatif lama. Dengan demikian berdampak pada makin meningkatnya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah. Misalnya pasien pasca stroke yang mengalami komplikasi kelumpuhan dan memerlukan pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama,
3. Manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit, merasakan bahwa perawatan klien yang sangat lama (lebih 1 minggu) tidak menguntungkan bahkan menjadi beban bagi manajemen,
4. Banyak orang merasakan bahwa dirawat inap di institusi pelayanan kesehatan membatasi kehidupan manusia, karena seseorang tidak dapat menikmati kehidupan secara optimal karena terikat dengan aturan-aturan yang ditetapkan,
5. Lingkungan di rumah ternyata dirasakan lebih nyaman bagi sebagian klien dibandingkan dengan perawatan di rumah sakit, sehingga dapat mempercepat kesembuhan (Depkes, 2002).
Perawatan kesehatan di rumah bertujuan :
1. Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya,
2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan,
3. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga,
4. Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang diperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif,
5. Biaya kesehatan akan lebih terkendali.
Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah dapat di kelompokkan sebagai berikut :
1. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
2. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
3. Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
4. Pelayanan informasi dan rujukan
5. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
6. Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
7. Pelayanan perbaikan untuk kegiatan sosial
Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di rumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus khusus yang di jumpai di komunitas.
Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
1. Klien dengan penyakit gagal jantung,
2. Klien dengan gangguan oksigenasi,
3. Klien dengan perlukaan kronis,
4. Klien dengan diabetes,
5. Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
6. Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
7. Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
8. Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
9. Klien dengan HIV/AIDS.
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
1. Klien dengan post partum,
2. Klien dengan gangguan kesehatan mental,
3. Klien dengan kondisi usia lanjut,
4. Klien dengan kondisi terminal.
5. Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
http://ferryefendi.blogspot.com/2007/11/home-care-perawatan-kesehatan-di-rumah.html
Mulailah Keberhasilan Anda Dari Manapun Anda Berada
Apapun yang terjadi kepada Anda,
akan tetap menjadi sesuatu yang menguatkan Anda,
bila Anda tidak mengijinkannya untuk melemahkan Anda.
Maka mulailah dari tempat di mana Anda berada, dan mulailah sekarang.
Anda sampai, hanya karena Anda berangkat.
Dan ingatlah, bahwa
Batas waktu itu dibuat bukan karena Anda harus selesai, tetapi karena Anda harus segera memulai.
Dan setelah pengertian ini mendapatkan tempat yang kuat di hati Anda, perjelaslah bagi diri Anda sendiri, bahwa
Keberhasilan Anda ada pada tempat yang lebih tinggi dari yang sedang Anda kerjakan sekarang.
Kemudian,
janganlah berlaku seperti orang yang mengeluhkan apa saja yang tidak terlihat di dalam sebuah gambar,
Berfokuslah pada yang telah jelas terlihat,
karena dari sana lah Anda mencapai tempat-tempat yang belum terlihat bahkan oleh imajinasi Anda.
Lalu bekerja keraslah dalam kedamaian bahwa Anda telah melakukan yang benar.
Janganlah berupaya menjelaskan mengapa Anda tidak mencapai yang belum Anda capai.
Bekerjalah untuk mencapai yang telah jelas bagi Anda.
Maka, Mulailah keberhasilan Anda dari mana pun Anda berada.
Mario Teguh
akan tetap menjadi sesuatu yang menguatkan Anda,
bila Anda tidak mengijinkannya untuk melemahkan Anda.
Maka mulailah dari tempat di mana Anda berada, dan mulailah sekarang.
Anda sampai, hanya karena Anda berangkat.
Dan ingatlah, bahwa
Batas waktu itu dibuat bukan karena Anda harus selesai, tetapi karena Anda harus segera memulai.
Dan setelah pengertian ini mendapatkan tempat yang kuat di hati Anda, perjelaslah bagi diri Anda sendiri, bahwa
Keberhasilan Anda ada pada tempat yang lebih tinggi dari yang sedang Anda kerjakan sekarang.
Kemudian,
janganlah berlaku seperti orang yang mengeluhkan apa saja yang tidak terlihat di dalam sebuah gambar,
Berfokuslah pada yang telah jelas terlihat,
karena dari sana lah Anda mencapai tempat-tempat yang belum terlihat bahkan oleh imajinasi Anda.
Lalu bekerja keraslah dalam kedamaian bahwa Anda telah melakukan yang benar.
Janganlah berupaya menjelaskan mengapa Anda tidak mencapai yang belum Anda capai.
Bekerjalah untuk mencapai yang telah jelas bagi Anda.
Maka, Mulailah keberhasilan Anda dari mana pun Anda berada.
Mario Teguh
20 Maret 2009
SAATNYA PERAWAT TERJUN KE DUNIA POLITIK
SAATNYA PERAWAT TERJUN KE DUNIA POLITIK
Banyaknya masalah yang melanda profesi keperawatan akhir-akhir ini di kaitkan dengan tidak adanya seorang perawat yang menjadi pemegang kebijakan baik di eksekutive maupun legislative. Banyak juga di singgung mengenai masalah undang-undang keperawatan yang tidak kelar-kelar juga di karenakan tidak adanya keterwakilan seorang perawat di posisi penentu tersebut. Namun apakah hal tersebut benar adanya?
Seorang senior perawat dari USA mengatakan bahwa, sejarah profesi keperawatan di sana dulunya juga tak ubahnya kondisi profesi keperawatan di Indonesia saat ini. Dan melalui dunia politiklah regulasi-regulasi terkait profesi keperawatan akan terwujud, namun sejauh mana peran perawat dalam meng-goal-kan regulasi tersebut?
Berikut ini kami coba membahas mengenai profesi keperawatan dan dunia politik, dimulai dari bahasan politik secara umum hingga pentingnya dunia perpolitikan bagi profesi keperawatan baik di lihat dari regulasi pendidikan maupun regulasi kewenangan perawat di lahan klinik. Diharapkan dari ulasan yang kami sampaikan ini akan membawawacana baru bagi kita semua mengenai dunia politik yang tak seharusnya perawat jauhi.
Politik secara umum
Secara umum politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik (wikipedia Indonesia). Disebutkan juga bahwa politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Dalam teori politik menunjuk pada kemampuan untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Max Weber menuliskan adanya tiga sumber kekuasaan: pertama dari perundang-undangan yakni kewenangan; kedua, dari kekerasan seperti penguasaan senjata; ketiga, dari karisma.
Kondisi politik Indonesia saat ini tak ubahnya transisi menuju demokrasi atau lebih tepatnya pelembagaan demokrasi. Yaitu bagaimana menjadikan perilaku pengambilan keputusan untuk dan atas nama orang banyak bisa berjalan sesuai dengan norma-norma demokrasi, umumnya yang harus diatasi adalah merobah lembaga feodalistik (perilaku yang terpola secara feodal, bahwa ada kedudukan pasti bagi orang-orang berdasarkan kelahiran atau profesi sebagai bangsawan politik dan yang lain sebagai rakyat biasa) menjadi lembaga yang terbuka dan mencerminkan keinginan orang banyak untuk mendapatkan kesejahteraan.
Untuk melembagakan demokrasi diperlukan hukum dan perundang-undangan dan perangkat struktural yang akan terus mendorong terpolanya perilaku demokratis sampai bisa menjadi pandangan hidup. Karena diyakini bahwa dengan demikian kesejahteraan yang sesungguhnya baru bisa dicapai, saat tiap individu terlindungi hak-haknya bahkan dibantu oleh negara untuk bisa teraktualisasikan, saat tiap individu berhubungan dengan individu lain sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku.
Peranan perawat dalam dunia politik
Ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang perawat dalam berperan secara active maupun passive dalam dunia politik. Mulai dari kemampuan yang harus dimiliki bidang politik hingga talenta yang harus di miliki mengenai sense of politic.
Dalam wikipedia Indonesia disebutkan bahwa seseorang dapat mengikuti dan berhak menjadi insan politik dengan mengikuti suatu partai politik atau parpol, mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau LSM (lembaga swadaya masyarakat). Maka dari hal tersebut seseorang berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku.
Dari hal tersebut, perawat yang merupakan bagian dari insan perpolitikan di Indonesia juga berhak dan berkewajiban ikut serta dan mengambil sebuah kekuasaan demi terwujudnya regulasi profesi keperawatan yang nyata. Dari hal tersebut juga terlihat bahwa perawat dapat memperjuangkan banyak hal terkait dengan umat maupun nasib perawat itu sendiri.
Pentingnya dunia politik bagi profesi keperawatan
Dunia politik bukan dunia yang asing, namun terjun dan berjuang bersamanya mungkin akan terasa asing bagi profesi keperawatan. Hal ini di tunjukkan belom adanya keterwakilan seorang perawat dalam kancah perpolitikan Indonesia.
Tidak di pungkiri lagi bahwa seorang perawat juga rakyat Indonesia yang juga memiliki hak pilih dan tentunya telah melakukan haknya untuk memilih wakil-wakilnya sebagai anggota legislative namun seakan tidak ada satupun suara yang menyuarakan hati nurani profesi keperawatan. Akankah hal ini di biarkan begitu saja? Tentunya tidak, karena profesi kita pun mebutuhkan penyampaian aspirasi yang patut untuk di dengar dan di selesaikannya permasalahan yang ada, yang tentunya akan membawa kesejahteraan rakyat seluruh profesi keperawatan.
Sulitnya menjadikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keperawatan seringkali dikaitkan dengan tidak adanya keterwakilan seorang perawat di badan legislative sana.
Regulasi pendidikan
Banyak sekali keuntungan yang akan didapatkan ketika regulasi (undang-undang) keperawatan telah di tetapkan, salah satunya adalah mengenai regulasi pendidikan keperawatan di Indonesia. Walaupun regulasi pendidikan seharusnya wewenang Dinas Pendidikan Tinggi, namun saat ini profesi keperawatan mengalami dualisme arah, kiblat pendidikan keperawatan yang ganda ini menjadikan profesi keperawatan semakin ruwet dan kemungkinan akan menyulitkan dalam birokasi-birokrasi pengurusannya.
Sesuai keputusan………….dinyatakan bahwa pendidikan hanya dapat di laksanakan atau berada di bawah Dinas Pendidikan Tinggi (DIKTI) namun kenyataan yang ada adalah pendidikan keperawatan masih ada yang berada di bawah selain DIKTI dan istitusi lainnya ada yang berada di bawah Dinas Kesehatan (Dinkes).
Kenapa hal tersebut masih terjadi? Dan mengapa hal semacam ini masih di pertahankan sampai sekarang yang kemudian akan menjadikan banyaknya kesenjangan, kurikulum yang tidak merata dan kesulitan dalam quality control kurikulum yang ada, dan masih banyak lagi permasalah yang lain.
Menjadi bagian dari dunia perpolitikan di Indonesia, di harapkan seorang perawat mampu mewakili banyaknya aspirasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada di profesi keperawatan salah satunya seperti yang di sebutkan diatas yaitu mengenai begaimana meregulasi pendidikan keperawatan yang hasil akhirnya di harapkan tercapainya kualitas perawat bias di pertanggung jawabkan.
Regulasi pendidikan akan menjadikan tidak bermunculnya institusi pendidikan keperawatan yang hanya mencari untung, politik uang, dan institusi yang tidak melakukan penjaminan mutu akan output perawat yang di luluskan setiap periodenya.
Dengan regulasi pendidikan keperawatan, semua menjadi terstandardisasi, profesi keperawatan yang mempunyai nilai tawar, nilai jual dan menjadi profesi yang di pertimbangkan.
Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik
Tidak kalah pentingnya dengan regulasi pendidikan, dimana regulasi pendidikan merupakan bagaimana kita melakukan persiapan yang matang sebelum membuat dan memulai (perencanaan), dimana kita melakukan pembangunan fondasi yang kokoh dan system yang mensupport akan terbentuknya generasi perawat-perawat yang siap tempur. Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik akan menjadikan profesi keperawatan semakin mantap dalam langkahnya. Kewenangan perawat yang mandiri, terstruktur dan ranah yang jelas akan menjadikan perawat semakin professional dan proporsional sesuai dengan tanggung jawab yang harus di penuhi, selain itu dalam regulasi kewenangan ini di harapkan tidak terjadi adanya overlap dan salah satu yang paling penting adalah menghindari terjadi malpraktek yang kemungkinan dapat terjadi.
Cara terjun ke dunia politik
Banyak hal yang dapat di lakukan oleh seorang perawat sehingga mampu terjun ke dunia politik. Salah satu yang paling umum dilakukan adalah mendukung salah satu partai politik. Partai politik ini akan menjadi motor penggerak pembawa di kancah perpolitikan Indonesia.
Banyak partai yang menawarkan posisi legislative, ada partai yang melakukan pengkaderan dari awal yang mampu menyiapkan calon-calon legislative dari embrio yang akan di berikan suntikan idiologi dari pertain tersebut, ada juga partai yang memberikan kesempatan kepada siapa saja yang siap untuk berjuang bersama-sama mendukung partainya dan menjadi calon legislative.
Sumber: Ns. Bejo Utomo, S.Kep .Indonesian Nursing Profession.
Sabtu, 2008 September 06
Banyaknya masalah yang melanda profesi keperawatan akhir-akhir ini di kaitkan dengan tidak adanya seorang perawat yang menjadi pemegang kebijakan baik di eksekutive maupun legislative. Banyak juga di singgung mengenai masalah undang-undang keperawatan yang tidak kelar-kelar juga di karenakan tidak adanya keterwakilan seorang perawat di posisi penentu tersebut. Namun apakah hal tersebut benar adanya?
Seorang senior perawat dari USA mengatakan bahwa, sejarah profesi keperawatan di sana dulunya juga tak ubahnya kondisi profesi keperawatan di Indonesia saat ini. Dan melalui dunia politiklah regulasi-regulasi terkait profesi keperawatan akan terwujud, namun sejauh mana peran perawat dalam meng-goal-kan regulasi tersebut?
Berikut ini kami coba membahas mengenai profesi keperawatan dan dunia politik, dimulai dari bahasan politik secara umum hingga pentingnya dunia perpolitikan bagi profesi keperawatan baik di lihat dari regulasi pendidikan maupun regulasi kewenangan perawat di lahan klinik. Diharapkan dari ulasan yang kami sampaikan ini akan membawawacana baru bagi kita semua mengenai dunia politik yang tak seharusnya perawat jauhi.
Politik secara umum
Secara umum politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik (wikipedia Indonesia). Disebutkan juga bahwa politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Dalam teori politik menunjuk pada kemampuan untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Max Weber menuliskan adanya tiga sumber kekuasaan: pertama dari perundang-undangan yakni kewenangan; kedua, dari kekerasan seperti penguasaan senjata; ketiga, dari karisma.
Kondisi politik Indonesia saat ini tak ubahnya transisi menuju demokrasi atau lebih tepatnya pelembagaan demokrasi. Yaitu bagaimana menjadikan perilaku pengambilan keputusan untuk dan atas nama orang banyak bisa berjalan sesuai dengan norma-norma demokrasi, umumnya yang harus diatasi adalah merobah lembaga feodalistik (perilaku yang terpola secara feodal, bahwa ada kedudukan pasti bagi orang-orang berdasarkan kelahiran atau profesi sebagai bangsawan politik dan yang lain sebagai rakyat biasa) menjadi lembaga yang terbuka dan mencerminkan keinginan orang banyak untuk mendapatkan kesejahteraan.
Untuk melembagakan demokrasi diperlukan hukum dan perundang-undangan dan perangkat struktural yang akan terus mendorong terpolanya perilaku demokratis sampai bisa menjadi pandangan hidup. Karena diyakini bahwa dengan demikian kesejahteraan yang sesungguhnya baru bisa dicapai, saat tiap individu terlindungi hak-haknya bahkan dibantu oleh negara untuk bisa teraktualisasikan, saat tiap individu berhubungan dengan individu lain sesuai dengan norma dan hukum yang berlaku.
Peranan perawat dalam dunia politik
Ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang perawat dalam berperan secara active maupun passive dalam dunia politik. Mulai dari kemampuan yang harus dimiliki bidang politik hingga talenta yang harus di miliki mengenai sense of politic.
Dalam wikipedia Indonesia disebutkan bahwa seseorang dapat mengikuti dan berhak menjadi insan politik dengan mengikuti suatu partai politik atau parpol, mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau LSM (lembaga swadaya masyarakat). Maka dari hal tersebut seseorang berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku.
Dari hal tersebut, perawat yang merupakan bagian dari insan perpolitikan di Indonesia juga berhak dan berkewajiban ikut serta dan mengambil sebuah kekuasaan demi terwujudnya regulasi profesi keperawatan yang nyata. Dari hal tersebut juga terlihat bahwa perawat dapat memperjuangkan banyak hal terkait dengan umat maupun nasib perawat itu sendiri.
Pentingnya dunia politik bagi profesi keperawatan
Dunia politik bukan dunia yang asing, namun terjun dan berjuang bersamanya mungkin akan terasa asing bagi profesi keperawatan. Hal ini di tunjukkan belom adanya keterwakilan seorang perawat dalam kancah perpolitikan Indonesia.
Tidak di pungkiri lagi bahwa seorang perawat juga rakyat Indonesia yang juga memiliki hak pilih dan tentunya telah melakukan haknya untuk memilih wakil-wakilnya sebagai anggota legislative namun seakan tidak ada satupun suara yang menyuarakan hati nurani profesi keperawatan. Akankah hal ini di biarkan begitu saja? Tentunya tidak, karena profesi kita pun mebutuhkan penyampaian aspirasi yang patut untuk di dengar dan di selesaikannya permasalahan yang ada, yang tentunya akan membawa kesejahteraan rakyat seluruh profesi keperawatan.
Sulitnya menjadikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keperawatan seringkali dikaitkan dengan tidak adanya keterwakilan seorang perawat di badan legislative sana.
Regulasi pendidikan
Banyak sekali keuntungan yang akan didapatkan ketika regulasi (undang-undang) keperawatan telah di tetapkan, salah satunya adalah mengenai regulasi pendidikan keperawatan di Indonesia. Walaupun regulasi pendidikan seharusnya wewenang Dinas Pendidikan Tinggi, namun saat ini profesi keperawatan mengalami dualisme arah, kiblat pendidikan keperawatan yang ganda ini menjadikan profesi keperawatan semakin ruwet dan kemungkinan akan menyulitkan dalam birokasi-birokrasi pengurusannya.
Sesuai keputusan………….dinyatakan bahwa pendidikan hanya dapat di laksanakan atau berada di bawah Dinas Pendidikan Tinggi (DIKTI) namun kenyataan yang ada adalah pendidikan keperawatan masih ada yang berada di bawah selain DIKTI dan istitusi lainnya ada yang berada di bawah Dinas Kesehatan (Dinkes).
Kenapa hal tersebut masih terjadi? Dan mengapa hal semacam ini masih di pertahankan sampai sekarang yang kemudian akan menjadikan banyaknya kesenjangan, kurikulum yang tidak merata dan kesulitan dalam quality control kurikulum yang ada, dan masih banyak lagi permasalah yang lain.
Menjadi bagian dari dunia perpolitikan di Indonesia, di harapkan seorang perawat mampu mewakili banyaknya aspirasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada di profesi keperawatan salah satunya seperti yang di sebutkan diatas yaitu mengenai begaimana meregulasi pendidikan keperawatan yang hasil akhirnya di harapkan tercapainya kualitas perawat bias di pertanggung jawabkan.
Regulasi pendidikan akan menjadikan tidak bermunculnya institusi pendidikan keperawatan yang hanya mencari untung, politik uang, dan institusi yang tidak melakukan penjaminan mutu akan output perawat yang di luluskan setiap periodenya.
Dengan regulasi pendidikan keperawatan, semua menjadi terstandardisasi, profesi keperawatan yang mempunyai nilai tawar, nilai jual dan menjadi profesi yang di pertimbangkan.
Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik
Tidak kalah pentingnya dengan regulasi pendidikan, dimana regulasi pendidikan merupakan bagaimana kita melakukan persiapan yang matang sebelum membuat dan memulai (perencanaan), dimana kita melakukan pembangunan fondasi yang kokoh dan system yang mensupport akan terbentuknya generasi perawat-perawat yang siap tempur. Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik akan menjadikan profesi keperawatan semakin mantap dalam langkahnya. Kewenangan perawat yang mandiri, terstruktur dan ranah yang jelas akan menjadikan perawat semakin professional dan proporsional sesuai dengan tanggung jawab yang harus di penuhi, selain itu dalam regulasi kewenangan ini di harapkan tidak terjadi adanya overlap dan salah satu yang paling penting adalah menghindari terjadi malpraktek yang kemungkinan dapat terjadi.
Cara terjun ke dunia politik
Banyak hal yang dapat di lakukan oleh seorang perawat sehingga mampu terjun ke dunia politik. Salah satu yang paling umum dilakukan adalah mendukung salah satu partai politik. Partai politik ini akan menjadi motor penggerak pembawa di kancah perpolitikan Indonesia.
Banyak partai yang menawarkan posisi legislative, ada partai yang melakukan pengkaderan dari awal yang mampu menyiapkan calon-calon legislative dari embrio yang akan di berikan suntikan idiologi dari pertain tersebut, ada juga partai yang memberikan kesempatan kepada siapa saja yang siap untuk berjuang bersama-sama mendukung partainya dan menjadi calon legislative.
Sumber: Ns. Bejo Utomo, S.Kep .Indonesian Nursing Profession.
Sabtu, 2008 September 06
MANAJEMEN WAKTU
Adil Membagi Waktu
"Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya." (HR Ahmad)
Saudaraku, Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Alquran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah SWT bersumpah atas nama waktu. Misalnya di awal QS Al-Ashr [103], Al-Lail [92], Adh-Dhuha [93], dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bila Islam mengingatkan kita akan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu disepertiga malam terakhir, waktu dhuha (saat matahari sepenggalahan).
Mengingat pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh mana komitmen kita terhadap waktu? Bila kita termasuk orang yang meremehkan waktu, tidak kecewa saat pertambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.
Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.
Kunci efektivitas waktu
Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa disertai istirahat dan ibadah misalnya, hanya akan mendatangkan masalah.
Mahasiswa yang akan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untuk membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah belajar 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, dalam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliahnya ada 10. Satu mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman, berarti 50 X 10 = 500 halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar.
Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjalankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah secara proporsional dan fleksibel agar kita mudah menjalankannya.
Menunda pekerjaan
Ada satu kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu yang kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal kebiasaan menunda hampir pasti mengundang masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang.
Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaikan. Andaikan kita tunda maka pekerjaan lain pasti akan menyusul, sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.
Contohnya ada seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Dalam hati ia berkata, "Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang". Ketika malam datang ia berkata lagi, "Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian". Saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, "Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti Subuh". Apa yang terjadi? Subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas.
Ada sebuah nasihat dari Imam Hasan Al-Bashri yang layak kita renungkan. "Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu". Wallaahu a'lam.
(KH Abdullah Gymnastiar )
"Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya." (HR Ahmad)
Saudaraku, Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Alquran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah SWT bersumpah atas nama waktu. Misalnya di awal QS Al-Ashr [103], Al-Lail [92], Adh-Dhuha [93], dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bila Islam mengingatkan kita akan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu disepertiga malam terakhir, waktu dhuha (saat matahari sepenggalahan).
Mengingat pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh mana komitmen kita terhadap waktu? Bila kita termasuk orang yang meremehkan waktu, tidak kecewa saat pertambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.
Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.
Kunci efektivitas waktu
Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa disertai istirahat dan ibadah misalnya, hanya akan mendatangkan masalah.
Mahasiswa yang akan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untuk membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah belajar 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, dalam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliahnya ada 10. Satu mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman, berarti 50 X 10 = 500 halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar.
Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjalankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah secara proporsional dan fleksibel agar kita mudah menjalankannya.
Menunda pekerjaan
Ada satu kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu yang kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal kebiasaan menunda hampir pasti mengundang masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang.
Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaikan. Andaikan kita tunda maka pekerjaan lain pasti akan menyusul, sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.
Contohnya ada seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Dalam hati ia berkata, "Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang". Ketika malam datang ia berkata lagi, "Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian". Saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, "Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti Subuh". Apa yang terjadi? Subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas.
Ada sebuah nasihat dari Imam Hasan Al-Bashri yang layak kita renungkan. "Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu". Wallaahu a'lam.
(KH Abdullah Gymnastiar )
05 Maret 2009
03 Maret 2009
TUNTUNAN BAGI ORANG SAKIT
TUNTUNAN ROHANI BAGI ORANG SAKIT
PENYAKIT DAN IKHTIAR BEROBAT
1. Bila sakit segeralah berobat
Rasululloh SAW bersabda:
” Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Alloh SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya. Selain yang tidak ada obatnya yaitu tua”.
Hadits Riwayat (HR).Tirmizi
2. Dilarang berobat dengan yang haram
Rasululloh SAW bersabda:
” Sesungguhnya Alloh Ta’ala tidak menjadikan obat untuk penyembuhanmu,
pada apa-apa yang diharamkan atasmu”.
HR. Thabrani dari Ummu Salamah
3. Sakit adalah cobaan dari Alloh
Rasululloh SAW bersabda:
” Dan sesungguhnya bila Alloh SWT mencintai suatu kaum dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridho menerimanya maka ia akan memperoleh keridhoan Alloh.
Dan barang siapa murka (tidak ridho) , dia akan memperoleh kemurkaan Alloh”.
HR. Ibnu Majah dan Tirmizi
“ Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW, bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah kesusahan,kesedihan, penyakit, gangguan, hingga sepotong duri yang menusuknya melainkan Alloh pasti akan menghapus dosa-dosanya”.
HR. Bukhari & Muslim
4. Sabar dan ridho
Firman Alloh:
“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’
Al Qur’an Surat (QS) Al Baqoroh: 153
[99] Ada pula yang mengartikan: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
PENYAKIT DAN IKHTIAR BEROBAT
1. Bila sakit segeralah berobat
Rasululloh SAW bersabda:
” Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Alloh SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya. Selain yang tidak ada obatnya yaitu tua”.
Hadits Riwayat (HR).Tirmizi
2. Dilarang berobat dengan yang haram
Rasululloh SAW bersabda:
” Sesungguhnya Alloh Ta’ala tidak menjadikan obat untuk penyembuhanmu,
pada apa-apa yang diharamkan atasmu”.
HR. Thabrani dari Ummu Salamah
3. Sakit adalah cobaan dari Alloh
Rasululloh SAW bersabda:
” Dan sesungguhnya bila Alloh SWT mencintai suatu kaum dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridho menerimanya maka ia akan memperoleh keridhoan Alloh.
Dan barang siapa murka (tidak ridho) , dia akan memperoleh kemurkaan Alloh”.
HR. Ibnu Majah dan Tirmizi
“ Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW, bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah kesusahan,kesedihan, penyakit, gangguan, hingga sepotong duri yang menusuknya melainkan Alloh pasti akan menghapus dosa-dosanya”.
HR. Bukhari & Muslim
4. Sabar dan ridho
Firman Alloh:
“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’
Al Qur’an Surat (QS) Al Baqoroh: 153
[99] Ada pula yang mengartikan: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Menghitung Tetesan Infus
Menghitung tetesan infus
Salah satu keterampilan yang harus anda miliki sebagai seorang perawat adalah kemampuan anda untuk menentukan jumlah tetesan infus dalam tiap menit kepada klien. bagi anda yang sudah mengerti dan memahami berarti nilai tambah buat anda. tapi kalau masih belum paham, bisa anda pelajari kasus dibawah ini.
Contoh kasus
Dokter meresepkan kebutuhan cairan Nacl 0,9 % pada Tn A 1000 ml/12 jam. faktor drops (tetes) 15 tetes/1 ml. berapa tetes per menit cairan tersebut diberikan?
Strategi menjawab kasus
Ketahui jumlah cairan yang akan diberikan
konversi jam ke menit (1 jam = 60 menit)
masukkan kedalam rumus (Jumlah cairan yang dibutuhkan dikali dengan faktor drips, lalu dibagi dengan lamanya pemberian)
Jadi jawabannya adalah (1000 x 15)/(12 x 60) = 15.000/720 = 20.86 dibulatkan jadi 21
Cairan tersebut harus diberikan 21 tetes/menit.
Salah satu keterampilan yang harus anda miliki sebagai seorang perawat adalah kemampuan anda untuk menentukan jumlah tetesan infus dalam tiap menit kepada klien. bagi anda yang sudah mengerti dan memahami berarti nilai tambah buat anda. tapi kalau masih belum paham, bisa anda pelajari kasus dibawah ini.
Contoh kasus
Dokter meresepkan kebutuhan cairan Nacl 0,9 % pada Tn A 1000 ml/12 jam. faktor drops (tetes) 15 tetes/1 ml. berapa tetes per menit cairan tersebut diberikan?
Strategi menjawab kasus
Ketahui jumlah cairan yang akan diberikan
konversi jam ke menit (1 jam = 60 menit)
masukkan kedalam rumus (Jumlah cairan yang dibutuhkan dikali dengan faktor drips, lalu dibagi dengan lamanya pemberian)
Jadi jawabannya adalah (1000 x 15)/(12 x 60) = 15.000/720 = 20.86 dibulatkan jadi 21
Cairan tersebut harus diberikan 21 tetes/menit.
Langganan:
Postingan (Atom)